Pemerintahan
calendar_today 22 Jul 2026
person Oleh: Aparatur Pemerintahan Desa
Dari Sapi Bali Hingga Telur Ayam: Denyut Peternakan Desa Wakobalu Agung
"Selain dikenal sebagai sentra pertanian, Desa Wakobalu Agung di Kecamatan Kabangka juga menyimpan potensi besar di sektor peternakan. Empat komoditas utama sapi, ayam petelur, ayam potong, dan kambing"
Selain dikenal sebagai sentra pertanian, Desa Wakobalu Agung di Kecamatan Kabangka juga menyimpan potensi besar di sektor peternakan. Empat komoditas utama sapi, ayam petelur, ayam potong, dan kambing menjadi penopang ekonomi tambahan bagi masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani sekaligus peternak.
Sapi, Primadona Peternakan Wakobalu
Sapi merupakan hewan ternak yang paling banyak dibudidayakan di Wakobalu Agung, dengan jenis Bali sebagai yang paling dominan, disusul jenis Simmental dan Brahman. Populasi sapi di desa ini tercatat mencapai 380 ekor, menjadikannya wilayah dengan populasi sapi terbanyak kedua di Kecamatan Kabangka.
Menariknya, tingginya populasi sapi saat ini tidak lepas dari program permodalan pemerintah bagi daerah transmigrasi. Sebelumnya, populasi sapi asli di wilayah ini hanya berjumlah 23 ekor, sebelum kemudian ditunjang modal sebanyak 550 ekor sapi bagi warga transmigran.
Komoditas sapi dinilai sangat menjanjikan bagi masyarakat karena prospeknya yang jelas. Rata-rata, nilai seekor sapi yang dipelihara selama satu tahun dapat meningkat sebesar 5-6 juta rupiah. Permintaan sapi bahkan meningkat drastis saat momen Iduladha, dengan pemasaran yang menjangkau luar Wakobalu hingga ke Kendari dan Makassar.
Ayam Petelur: Andalan Berkat Melimpahnya Jagung
Sebagai desa penghasil jagung, Wakobalu Agung memiliki keunggulan tersendiri dalam usaha ternak ayam petelur, karena pakan lebih mudah didapat dan harganya relatif murah. Sebagian besar peternak bahkan meracik pakan ternak mereka sendiri.
Saat ini terdapat sekitar 4-5 pengusaha ayam petelur di desa ini, ditambah satu unit usaha BUMDes yang mengelola ayam petelur—meskipun awalnya BUMDes tersebut sempat diarahkan untuk usaha pangan sebelum akhirnya dialihkan karena dinilai kurang efektif. Populasi ayam petelur di Wakobalu Agung tercatat lebih dari 5.000 ekor, dengan hasil produksi telur yang dipasok tidak hanya untuk wilayah sekitar Wakobalu, tetapi juga ke luar kecamatan, mengingat kebutuhan telur di Kabupaten Muna secara keseluruhan belum sepenuhnya tercukupi.
Meski permintaan tinggi, harga telur di pasaran tetap mengalami fluktuasi, salah satunya dipicu oleh kondisi kelebihan produksi (overproduksi) dari wilayah Sulawesi Selatan yang turut memengaruhi harga di pasar lokal.
Ayam Potong dan Kambing Sebagai Pelengkap
Selain ayam petelur, usaha ayam potong di Wakobalu Agung juga menunjukkan populasi yang stabil. Ada pula usaha ternak kambing dan itik (pitik), meski populasinya belum sebanyak sapi maupun ayam.
Kualitas Unggul Berkat Kondisi Alam
Kualitas daging ternak di Wakobalu Agung dinilai baik, tak lepas dari pakan alami yang tersedia melimpah serta kandungan zat kapur pada tanah di wilayah Muna yang turut memengaruhi kualitas hasil peternakan.
Tantangan Permodalan di Tengah Peluang yang Terbuka
Menurut Syarifudin, penanggung jawab Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Peternakan Wakobalu, pasar untuk hasil peternakan di desa ini sudah cukup baik, ditambah sumber bibit ternak yang mudah didapatkan. Meski demikian, tantangan utama yang masih dihadapi para peternak adalah keterbatasan permodalan.
Sebagai daerah transmigrasi, masyarakat Wakobalu Agung cenderung jeli melihat sektor mana yang memiliki potensi dan peluang, lalu mengusahakannya secara maksimal termasuk di bidang peternakan yang kini menjadi salah satu sumber penghasilan yang cukup diandalkan warga, sejalan dengan tren harga jual ternak yang relatif terus meningkat setiap tahunnya.
Penulis : Fazila Nayyara Dahayu - KKN-PPM UGM MUNAMERONA 2026
Sumber foto : Intania Mustofa - KKN-PPM UGM MUNAMERONA 2026
share Bagikan Artikel: