Pemerintahan
calendar_today 22 Jul 2026
person Oleh: Aparatur Pemerintahan Desa
Ladang Emas di Tanah Kapur: Menguak Potensi Pertanian Desa Wakobalu Agung
"Desa Wakobalu Agung, yang terletak di Kecamatan Kabangka, dikenal sebagai salah satu desa transmigran dengan tata ruang khas berupa pembagian lahan berbentuk persegi panjang dan pola lorong-lorong. De"
Desa Wakobalu Agung, yang terletak di Kecamatan Kabangka, dikenal sebagai salah satu desa transmigran dengan tata ruang khas berupa pembagian lahan berbentuk persegi panjang dan pola lorong-lorong. Desa yang terbagi menjadi dua dusun ini menyandang predikat sebagai salah satu desa paling maju di Kabangka, dengan pertanian sebagai salah satu tulang punggung utama perekonomiannya.
Hamparan Lahan yang Produktif
Total luas lahan pertanian di Wakobalu Agung mencapai 238 hektare, terbagi menjadi 105 hektare lahan hortikultura dan 170 hektare lahan tanaman pangan. Komoditas hortikultura yang paling banyak dibudidayakan antara lain tomat, cabai, kacang panjang, dan sawi, sementara tanaman pangan didominasi oleh jagung dan singkong, dengan luas tanam jagung diperkirakan mencapai sekitar 100 hektare.
Selain itu, warga juga mengembangkan tanaman perkebunan atau tanaman jangka menengah seperti kakao, aren, nilam, kelapa, pala, pisang, dan pepaya, serta aneka buah seperti jeruk bali, jeruk sunkis, dan durian. Menariknya, bibit jeruk sebagian besar didatangkan langsung dari Pulau Jawa.
Menyuplai Hingga Lintas Provinsi
Hasil pertanian Wakobalu Agung tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menyuplai wilayah yang lebih luas, mulai dari Muna, Buton, Baubau, Raha, Tampo, hingga sebagian wilayah Sulawesi Tenggara lainnya. Bahkan komoditas jeruk turut dipasarkan sampai ke Pulau Jawa.
Salah satu keunggulan sistem perdagangan di desa ini adalah rantai distribusi yang pendek. Pembeli datang langsung ke petani maupun langsung ke kebun tanpa melalui tengkulak, sehingga aktivitas ekonomi berlangsung nyaris 24 jam. Keberadaan pasar desa turut mempermudah petani menjual hasil panen dengan cepat, meskipun harga di tingkat pasar masih tergolong fluktuatif.
Kolaborasi Antar-etnis dan Transformasi Cara Bertani
Sebagai daerah transmigrasi, Wakobalu Agung menjadi tempat bertemunya masyarakat Jawa, Muna, dan Bugis yang saling berkolaborasi dalam sektor pertanian. Kehadiran warga transmigran asal Jawa membawa pengaruh signifikan terhadap pola bertani masyarakat lokal. Pendekatan pertanian yang lebih terencana dan efisien yang dibawa oleh petani Jawa perlahan diadaptasi oleh petani Muna, meski sebagian petani di desa ini masih menerapkan cara bertani konvensional.
Pola tanam holtikultura yang terus-menerus berganti membuat petani nyaris tidak memiliki masa "libur" bertani, karena begitu satu jenis tanaman dipanen, jenis lain segera ditanam sebagai penggantinya.
Kualitas Tanah yang Diuntungkan Zat Kapur
Kandungan zat kapur pada tanah di kawasan Muna, termasuk Wakobalu Agung, disebut turut memengaruhi kualitas hasil pertanian maupun kualitas kayu, seperti jati Muna yang dikenal memiliki mutu baik berkat pengaruh unsur tersebut.
Motivasi di Balik Melimpahnya Hasil Panen
Menurut Risma, penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabangka yang membina wilayah Wakobalu, potensi pertanian yang melimpah dan hasil panen yang menjanjikan menjadi motivasi utama masyarakat untuk terus bertani, sebab hasil panen mereka jarang mengalami kondisi tidak laku di pasaran.
Dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani, ditopang oleh keberadaan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pertanian, sistem distribusi yang efisien, serta keberagaman komoditas unggulan, Desa Wakobalu Agung menegaskan posisinya sebagai salah satu sentra pertanian andalan di Kecamatan Kabangka dan sekitarnya.
Penulis : Fazila Nayyara Dahayu - KKN-PPM UGM MUNAMERONA 2026
Sumber foto : Intania Mustofa - KKN-PPM UGM MUNAMERONA 2026
share Bagikan Artikel: